Langsung ke konten utama

Hakikat Pendidikan Khusus


    
Keluarbiasaan merupakan kata benda yang berasal dari kata sifat luar biasa yang dapat disejajarkan dengan kata
exceptional dalam bahasa Inggris. Secara harfiah, keluarbiasaan berarti menggambarkan sesuatu yang luar biasa dan sesuatu ini dapat berupa sesuatu yang sangat positif atau sebaliknya, sesuatu yang negatif. Dengan demikian, anak luar biasa (ALB) adalah anak yang mempunyai sesuatu yang luar biasa yang secara signifikan membedakannya dengan anak-anank seusia pada umumnya. Keluarbiasaan itu dapat berada di atas rata-rata anak normal, dapat pula berasa di bawah rata-rata anak normal. Anak-anak luar biasa yang dimaksud bukan hanya anak-anak yang mempunyai kekurangan, tetapi juga anak-anak yang mempunyai kelebihan. Karena adanya perubahan, sesuai dengan PP No. 17/2010 istilah anak anak luar biasa diubah menjadi anak berkebutuhan khusus (ABK). Anak berkebutuhan khusus dimaknai sebagai anak yang karena kondisi fisik, emosional, mental, sosial dan/atau memiliki kecerdasan atau bakat istimewa memerlukan bantuan khusus.

 Kebutuhaan khusus dapat dimaknai sebagai kebutuhan khas setiap anak terkait dengan kondiisi fisik, emosional, mental, sosial, dan/atau kecerdasan atau bakat istimewa yang dimilikinya. Dapat disimpulkan bahwa anak berkebutuhan khusus (ABK) dapat mewakili semua anak yang mempunyai kelainan atau penyimpangan dari anak normal, baik penyimpangan fisik, tingkah laku maupun kemampuan. 

Jenis penyimpangan dapat dilihat dari arah penyimpangannya dapat dibagi menjadi dua kategori, yaitu kebutuhan khusus yang kondisi di atas normal dan kebutuhan khusus yang terkait di bawah normal. Untuk kebutuhan yang terkait di bawah normal terdapat istilah-istilah beragam sesuai dengan jenis-jenis kondisi kelainannya. Jenis-jenis kelainan di bawah normal adalah :

a.       Tunanetra. Tunanetra berarti kurang penglihatan.

b.      Tunarungu. Istilah ini dikenakan bagi mereka yang mengalami gangguan pendengaran.

c.       Gangguan komunikasi, atau dalam bahasa Inggris disebut communication disorder merupakan gangguan yang sangat signifikan karena adanya kesulitan dalam kemampuan berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain.

d.      Tunagrahita atau dikenal sebagai cacat mental adalah kemampuan mental yang berada di bawah normal. Tolak ukur dari kelainan ini adalah tingkat kecerdasan atau IQ di bawah rata-rata anak normal.

e.       Tunadaksa, secara harfiah berarti cacat fisik. Oleh karena kelainan ini, anak tunadaksa tidak dapat menjalankan fungsi fisik secara normal.

f.        Tunalaras. Gangguan yang muncul pada anak-anak ini berupa gangguan perilaku seperti suka menyakiti diri sendiri, mencabik-cabik pakaian, memukul kepala atau menyerang teman atau bentuk penyimpangan perilaku yang lain

g.      Anak berkesulitan belajar, merupakan anak-anak yang mendapat kesulitan belajar bukan karena kelainan yang dideritanya.

h.      Tunaganda. Sesuai dengan istilah ini, kelompok penyandang kelainan jenis ini adalah mereka yang menyandang kebih dari satu jenis kelainan. Contohnya, penyandang tunanetra dan tunarungu sekaligus.

 

Para ahli telah meneliti untuk menemukan penyebab terjadinya kelainan tersebut, namun sampai sekarang ada pula kelainan yang masih belum diketahui penyebabnya. Adapun penyebab kelainan tersebut dapat dibagi menjadi tiga kategori, yaitu:

1)      Penyebab Prenatal, yaitu penyebab kelainan yang terindikasi sebelum kelahiran. Pada saat janin berada di dalam kandungan, sang ibu mungkin terserang virus, atau trauma yang menyebabkan muncul kelainan pada bayi.

2)      Penyebab Perinatal, yaitu penyebab yang muncul pada saat kelahiran. Seperti terjadi benturan, infeksi ketika melahirkan atau kelahiran dengan cara vacuum.

3)      Penyebab Postnatal, yaitu munculnya penyebab kelainan setelah kelahiran. Contohnya: kecelakaan, jatuh atau terjangkit penyakit tertentu.

 

Jenis kelainan dapat menimbulkan dampak yang spesifik. Dampak kelainan bervariasi sesuai dengan jenis kelainan dan lingkungan tempat anak dibesarkan. Selain itu, dampat tersebut juga akan memengaruhi perkembangan mereka.

1.      Dampak kelainan bagi keluarga

Reaksi orang tua dalam menerima kenyataan bahwa anaknya berkelainan berbeda-beda. Dalam hal ini dampak bagi keluarga juga bervariasi sesuai dengan latar belakang keluarga dan lingkungan.

2.      Dampak kelainan bagi masyarakat

Dampak bagi masyarakat juga beragam, namun perlu dicatat bahawa masyarakat Indonesia sudah banyak peduli dengan ABK. Keberadaan anak berbakat dapat menjadi pendorong bagi masyarakat untuk lebih memperhatikan perkembangan dan fasilitas pendidikan bagi ABK.

 

Setiap makhluk mempunyai kebutuhan. Tidak berbeda dengan orang-orang normal, para penyandang kelainan juga mempunyai kebutuhan yang sama. Kebutuhan bagi para penyandang kelainan adalah kebutuhan fisik, kebutuhan sosial-emosional dan kebutuhan pendidikan. Ketiga kebutuhan ini mencakup kebutuhan yang berkaitan dengan kondisi kelainan.

 

Para penyandang kelainan juga memiliki hak dan kewajiban yang sama sebagai warga negara dan dilindungi oleh undang-undang. Dalam hal pendidikan pula mereka berhak mendapat pendidikan khusus.

Komentar